RSS

KEPEMIMPINAN BERORIENTASI PADA KEKUASAAN BUDAYA JAWA

03 Nov

Banyak hal yang terjadi di negeri setelah beberapa peride pemerintahan yang terjadi di Indonesia yang dipegang oleh elit-elite penguasa pada zamannya.Bisa dilihat dari masa pemerintahan pada awal proklamasi, orde lama, orde baru hingga sekarang pada masa reformasi. Melihat dari perkembangan yang begitu pesat banyak hal yang patut dipelajari dari bebrapa sistem pemerintahan yang beraganti-ganti sistem. Dengan demikian banyak pula akses-akses positif dan negative yang timbul. Di yang paling menonjol pada masa pemerintahan orde baru yang sekian lama berkuasa selama 32 tahun. Bukan waktu yang sedikit, melain dari waktu yang lama itu pula banyak persolan yang memunculkan adanya kecuriagaan public setelah tersadar pada era sekarang ini.

Jika ditinjauan ulang pada masa orde baru sangat menarik dibicarkan khususnya kekuasaan dapat membuat legimitasi rakyat yang cendurung terbungkam sejak 32 tahun itu. Apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi? Sebelum membahas tentang sebab yang terjadi patut dipahami terlebih dahulu apa itu kekuasaan. Menurut Robson kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi.Diliahat sebagai interkasi antara pihak yang mempengaruhi dengan pihak yang dipengaruhi atau yang satu mempengaruhi dan yang lain mematuhi. Hal itu secara emprik jelas terlihat pada masa kekuasaan orde baru dulu. Banyak hal yang sangat membuat rakyat patuh pada pimpinannya yang mengakibatkan berlebih-lebihan sikap kepatuhan itu. Yang sering kali memunculkan feodalime. Hingga sekarang agaknya masih terlihat pada pola-pola birokrasi yang boleh dikatakan cendurung mengarah pada sikap otoritarian birocracy (OB) yang itu tidak sesungguhnya kurang sesuai pada era reformasi sekarang ini. Maka banyak kalangan yang sengaja mengubah kultur birokrasi yang sudah sejak lama mendarah daging di era orde baru dulu. Memang perlu upaya untuk merubahnya.

Kemabali pada konteks kekuasaan, ini menarik diulas bahwasanya ketika masa prakolonial dan rezim orde baru berkuasa lebih terlihat menggunakan kekuasaan menurt budaya jawa sebagai alat kekuasaannya.Kebudayaan Jawa ini tidak  hanya tersebar luas dalam masyarakat pada masanya tetapi juga dihayati pada masa kini. Mungkin  dipahami secara tidak lengkap lagi karena telah mengalami interaksi dengan budaya lain. Kebudayaan Jawa memiliki istilah yang mirip,tetapi tidak sama dengan konsep kekuasaan Barat, yakni kesakten.Untuk menjelaskan kekuasaan Jawa, Anderson mengkontaskannya dengan kekuasaan Barat berdasarkan beberapa criteria, yaitu abstrak tidaknya kekuasaan, sumber-sumber kekuasaan, jumlah kekuasaan, dan moralitas.

Sebaliknya, karakteristik kesekten menurut Budaya Jawa justru bertolak belakang dengan gambaran kekuasaan barat.Petama, kekuasaan bersifat kongket .Keberadaan kekuasaan tiodak terikat pada orang yang menggunakannya.Keberadaan kekuasaan merupakan kekuatan spiritual,misterius, dan tak nyata yang menggerakan dunia.Dalam pemikiran tradisional Jawa tidak terdapat perbedaanyang tajam antara hal-hal organis dan monarkis karena setiap hal diumungkinkan dengan kekuatan yang sama,tetapi tak terlihat. Kedua, kekuasaan bersifat homogeny.Semua kekuasaan brasal dari tipe dan sumber yang sama.Kekuasaan dalam tangan indivu atau kelompok tertentu identk dengan kekuasaan dalam individu atau kelompok lain.Menurut pandangan ini, jagat raya tidak meluas dan tidak pula menyempit.Jumlah kekuasaan di dalamnya tidak berubah.Karena kekuasaan itu bukan karena produk kekayaan, organisasi atau paksaan fisik maka kuantitasnya tetap. Namun, distribusinya dapat berubah-ubah pemegangnya dapat berganti-ganti.Konsentrasi kekuasaan pada satu tempat atau tangan berarti penganguran secara proposional pada tempat dan tangan lain (Ramlan Surbakti, 1992: 82)

Berdasarkan dari konsep kekuasaan menggunakan budaya Jawa menurut Muctar Lubis secara jelas disebutkan bahwa kekuasaaan politik yang berlaku di pemerintahan Orde lama maupn Orde baru berkuasa kelihatannya jelas berlandaskan konsep kekuasaan dalam budaya Jawa.Yang ditandai kepercayaan-kepercayaan pada hal-hal yang berbau supranatural, feodalisme, multalk ditinggalkan. Konsepsi budaya Jawa seoerti ini yang juga terdapat di berbagai suku bangsa Indonesia yang lain, yang menurut Muctar Lubis menjadi kekuasaan antidemokrasi.Pola budaya Jawa dalam merepakan kekuasaan tidak terbuka, berstruktual vertical dengan ratu di puncak piramida tahta kekuasaan, menolak kritik dan koreksi dari bawah, mentalitas kraton berkembang, ada kecenderungan senang dipuji-puji dan disembah-sembah.Bisa dilihat dari tiga kekuasaan Kisah Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai produk budaya Jawa juga tidak ada bedanya. Hanya suatu pengulangan kisah yang sama sejak beribu-ribu tahun yang lalu yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Apakah pemimpin yang sekarang menunjukkan arah perubahan dari ere-era sebelumnya?Memang tak dapat dipungkiri kini kehidupan lebih terasa demokratis untuk segera bangkit kea rah kemajuan. Walaupun dapat dilihat bahwa dari tiga kekuasaan kisah Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai produk budaya Jawa juga tidak ada bedanya. Hanya suatu pengulangan kisah yang sama sejak beribu-ribu tahun yang lalu yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Apa yang harus dilakukan ke depan yaitu dengan cara merubah pola kebuadyaan Jawa harus segera digantikan dengan sikap ilmiah, rasional, keterbukaan, kesediaan menerima kritikdan koreksi, dengan pola horizontal dan egaliter agar terbuka  kemungkinan mengeluarkan pikiran-pikiranalternatif lewat prose kreatif yang bebas dalam struktur yang benar-benar demokrasi.

Banyak hal yang terjadi di negeri setelah beberapa peride pemerintahan yang terjadi di Indonesia yang dipegang oleh elit-elite penguasa pada zamannya.Bisa dilihat dari masa pemerintahan pada awal proklamasi, orde lama, orde baru hingga sekarang pada masa reformasi. Melihat dari perkembangan yang begitu pesat banyak hal yang patut dipelajari dari bebrapa sistem pemerintahan yang beraganti-ganti sistem. Dengan demikian banyak pula akses-akses positif dan negative yang timbul. Di yang paling menonjol pada masa pemerintahan orde baru yang sekian lama berkuasa selama 32 tahun. Bukan waktu yang sedikit, melain dari waktu yang lama itu pula banyak persolan yang memunculkan adanya kecuriagaan public setelah tersadar pada era sekarang ini.

Jika ditinjauan ulang pada masa orde baru sangat menarik dibicarkan khususnya kekuasaan dapat membuat legimitasi rakyat yang cendurung terbungkam sejak 32 tahun itu. Apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi? Sebelum membahas tentang sebab yang terjadi patut dipahami terlebih dahulu apa itu kekuasaan. Menurut Robson kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi.Diliahat sebagai interkasi antara pihak yang mempengaruhi dengan pihak yang dipengaruhi atau yang satu mempengaruhi dan yang lain mematuhi. Hal itu secara emprik jelas terlihat pada masa kekuasaan orde baru dulu. Banyak hal yang sangat membuat rakyat patuh pada pimpinannya yang mengakibatkan berlebih-lebihan sikap kepatuhan itu. Yang sering kali memunculkan feodalime. Hingga sekarang agaknya masih terlihat pada pola-pola birokrasi yang boleh dikatakan cendurung mengarah pada sikap otoritarian birocracy (OB) yang itu tidak sesungguhnya kurang sesuai pada era reformasi sekarang ini. Maka banyak kalangan yang sengaja mengubah kultur birokrasi yang sudah sejak lama mendarah daging di era orde baru dulu. Memang perlu upaya untuk merubahnya.

Kemabali pada konteks kekuasaan, ini menarik diulas bahwasanya ketika masa prakolonial dan rezim orde baru berkuasa lebih terlihat menggunakan kekuasaan menurt budaya jawa sebagai alat kekuasaannya.Kebudayaan Jawa ini tidak  hanya tersebar luas dalam masyarakat pada masanya tetapi juga dihayati pada masa kini. Mungkin  dipahami secara tidak lengkap lagi karena telah mengalami interaksi dengan budaya lain. Kebudayaan Jawa memiliki istilah yang mirip,tetapi tidak sama dengan konsep kekuasaan Barat, yakni kesakten.Untuk menjelaskan kekuasaan Jawa, Anderson mengkontaskannya dengan kekuasaan Barat berdasarkan beberapa criteria, yaitu abstrak tidaknya kekuasaan, sumber-sumber kekuasaan, jumlah kekuasaan, dan moralitas.

Sebaliknya, karakteristik kesekten menurut Budaya Jawa justru bertolak belakang dengan gambaran kekuasaan barat.Petama, kekuasaan bersifat kongket .Keberadaan kekuasaan tiodak terikat pada orang yang menggunakannya.Keberadaan kekuasaan merupakan kekuatan spiritual,misterius, dan tak nyata yang menggerakan dunia.Dalam pemikiran tradisional Jawa tidak terdapat perbedaanyang tajam antara hal-hal organis dan monarkis karena setiap hal diumungkinkan dengan kekuatan yang sama,tetapi tak terlihat. Kedua, kekuasaan bersifat homogeny.Semua kekuasaan brasal dari tipe dan sumber yang sama.Kekuasaan dalam tangan indivu atau kelompok tertentu identk dengan kekuasaan dalam individu atau kelompok lain.Menurut pandangan ini, jagat raya tidak meluas dan tidak pula menyempit.Jumlah kekuasaan di dalamnya tidak berubah.Karena kekuasaan itu bukan karena produk kekayaan, organisasi atau paksaan fisik maka kuantitasnya tetap. Namun, distribusinya dapat berubah-ubah pemegangnya dapat berganti-ganti.Konsentrasi kekuasaan pada satu tempat atau tangan berarti penganguran secara proposional pada tempat dan tangan lain (Ramlan Surbakti, 1992: 82)

Berdasarkan dari konsep kekuasaan menggunakan budaya Jawa menurut Muctar Lubis secara jelas disebutkan bahwa kekuasaaan politik yang berlaku di pemerintahan Orde lama maupn Orde baru berkuasa kelihatannya jelas berlandaskan konsep kekuasaan dalam budaya Jawa.Yang ditandai kepercayaan-kepercayaan pada hal-hal yang berbau supranatural, feodalisme, multalk ditinggalkan. Konsepsi budaya Jawa seoerti ini yang juga terdapat di berbagai suku bangsa Indonesia yang lain, yang menurut Muctar Lubis menjadi kekuasaan antidemokrasi.Pola budaya Jawa dalam merepakan kekuasaan tidak terbuka, berstruktual vertical dengan ratu di puncak piramida tahta kekuasaan, menolak kritik dan koreksi dari bawah, mentalitas kraton berkembang, ada kecenderungan senang dipuji-puji dan disembah-sembah.Bisa dilihat dari tiga kekuasaan Kisah Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai produk budaya Jawa juga tidak ada bedanya. Hanya suatu pengulangan kisah yang sama sejak beribu-ribu tahun yang lalu yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Apakah pemimpin yang sekarang menunjukkan arah perubahan dari ere-era sebelumnya?Memang tak dapat dipungkiri kini kehidupan lebih terasa demokratis untuk segera bangkit kea rah kemajuan. Walaupun dapat dilihat bahwa dari tiga kekuasaan kisah Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai produk budaya Jawa juga tidak ada bedanya. Hanya suatu pengulangan kisah yang sama sejak beribu-ribu tahun yang lalu yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Apa yang harus dilakukan ke depan yaitu dengan cara merubah pola kebuadyaan Jawa harus segera digantikan dengan sikap ilmiah, rasional, keterbukaan, kesediaan menerima kritikdan koreksi, dengan pola horizontal dan egaliter agar terbuka  kemungkinan mengeluarkan pikiran-pikiranalternatif lewat prose kreatif yang bebas dalam struktur yang benar-benar demokrasi.

 
Leave a comment

Posted by on November 3, 2010 in politic

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: